PERIHAL HUTANG PIHUTANG MENURUT ALQURAN DAN HADIS


PERIHAL HUTANG PIHUTANG MENURUT ALQURAN DAN HADIS

Secara umum tak ada seorangpun yang ingin jeratan hutang piutang. Realitanya, hampir semua insan pernah terlibat jeratan hutang piutang dalam episode kehidupannya. Sebab-sebabnya bervariasi, mulai dari minimnya pendapatan, banyaknya kebutuhan hingga sekedar menuruti gaya hidup kekinian. Apalagi banyak pribadi maupun institusi yang justru memanfaatkan kebutuhan hutang di tengah masyarakat dengan menawarkan berbagai fasilitas yang terlihat menggiurkan, kendati ujung-ujungnya tetap menyesakkan dada.

Pertama, al-Qur’an membahas hutang dengan kata kunci dayn (hutang) yang disebutkan sebanyak lima kali dalam tiga ayat. Ayat pertama, Q.S. al-Baqarah [2]: 282, Ayat tersebut memberikan tips agar setiap transaksi hutang-piutang dicatat oleh pihak penghutang maupun pemiutang, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Ayat kedua, Q.S. al-Nisa’ [4]: 11-12, memuat empat kata kunci dayn yang seluruhnya berkenaan dengan kewajiban pelunasan hutang bagi orang yang sudah meninggal dunia. Pelunasannya dapat diambil dari harta warisan, atau menjadi tanggung jawab ahli warisnya.

 

Kedua, Hadis membahas hutang dalam konteks ibadah (hablum min Allah) maupun muamalah (hablum min al-nas). Misalnya, Ibn ‘Abbas RA meriwayatkan bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Rasulullah SAW, lalu berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar haji, namun beliau belum sempat berhaji hingga wafat. Apakah aku harus berhaji untuk beliau?”. Rasulullah SAW menjawab: “Ya, berhajilah untuknya. Bukankah jikalau ibumu memiliki hutang, maka engkau akan melunasinya? Lunasilah (hutang kepada) Allah, karena (hutang kepada Allah) lebih berhak untuk dilunasi” (H.R. al-Bukhari).

Dalam riwayat lain diinformasikan bahwa setiap kali ada jenazah dihadapkan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bertanya perihal hutang jenazah tersebut. Jika dikatakan bahwa jenazah itu memiliki hutang, maka Rasulullah SAW menunda pelaksanaan shalat jenazah; dan jika dikatakan bahwa jenazah itu tidak memiliki hutang, maka Rasulullah SAW segera menshalatinya. Lebih lanjut, Ibn Hajar menyatakan bahwa Hadis ini mengisyaratkan begitu beratnya urusan hutang. Sehingga sebaiknya tidak perlu berhutang, kecuali dalam keadaan darurat.

Begitu dahsyatnya urusan hutang ini, sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang memegang jiwa Muhammad, seandainya seorang laki-laki gugur di medan perang, lalu dia hidup lagi, kemudian gugur di medan perang, lalu dia hidup lagi; sedangkan dia memiliki hutang, maka dia tidak akan masuk surga, hingga hutangnya dilunasi” (H.R. Ahmad). Bahkan dalam Hadis lainnya dinyatakan bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki hutang yang tidak dilunasi, tergolong berdosa besar (H.R. Ahmad).

Selengkapnya di dialogilmu.com